Referensi

Standard

http://karlalbrecht.com/siprofile/siprofiletheory.htm Diakses pada tanggal 12 desember pukul 10:00 WIB

http://sastraamijaya.wordpress.com/2009/03/18/kecerdasan-sosial/

Diakses pada tanggal 14 desember pukul 13.00

http://edukasi.kompasiana.comKecerdasan Diakses pada tanggal 12 desember pukul 10:00

Power point ibu Aat Sriati

Advertisements

CONTOH APLIKASI KECERDASAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Standard

MENANAMKAN KECERDASAN SOSIAL BAGI SISWA

Masih seringnya dijumpai siswa-siswa yang galau dibeberapa sekolah disaat-saat menjelang ujian atau semester-an tentu merupakan kondisi psikologi yang wajar. Akan tetapi apabila hal ini lebih disebabkan tuntutan menghafal materi yang telah diajarkan guru, tentu perlu dipertanyaan. Seorang siswa tentunya belajar dari evaluasi belajar yang sudah-sudah, apabila guru selalu mengacu pada catatan materi yang telah diberikan tentu tidak ada pilihan lagi bagi siswa kecuali menghafal materi yang ada. Untuk mendapatkan nilai yang baik menghafal puluhan kalimat dan catatan penting menjadi jalan terbaik, meski ditengah jadwal evaluasi yang terkadang tidak hanya satu kali. Terlebih orang tua mereka pun hanya menuntut nilai yang tinggi, tanpa mau mengerti bagaimana anak-anak mereka mendapatkan nilai tersebut.
Kondisi ini sungguh sebuah ironi disaat pendidikan kita tengah berbenah untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kemandirian menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Perilaku pembelajaran menjadi terjebak pada orientasi yang lebih mengedepankan pengetahuan. Interaksi sosial yang ada disekolah pun menjadi lebih pada benar dan salah. Interaksi yang kaku antara guru dan siswa. Membentuk siswa menjadi pribadi pasif yang harus menurut pada apa yang dianggap guru sebagai hal yang benar. Pada gilirannya inilah yang menjadi penyebab masing langgengnya pola pembelajaran hafalan, yang tentu salah satunya disebabkan belum terbiasanya guru menerima jawaban berbeda dari apa yang diajarkan.
Menerima perbedaan sungguh amatlah sulit terlebih jika tidak dimulai dari sebuah kebiasaan. Terlebih hal ini turut memberikan kemampuan pada seseorang untuk mampu beradaptasi dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Salah satu kecakapan hidup yang seharusnya juga diajarkan guru disekolah pada muridnya. Kemampuan menerima perbedaan perlu diajarkan sebagai sebuah kecerdasan yang harus dikuasai dan diasah oleh setiap siswa. Sebab keberagaman adalah keniscayaan yang setiap siswa pasti akan hidup didalamnya. Prinsip ke-bhinekaan bangsa ini, tuntutan dunial global dan hakekat manusia sebagai makhluk sosial, menjadi dasar pentingnya membelajarkan siswa untuk menerima perbedaan. Dan pembelajaran menerima perbedaan itu pertama kali dimulai dari para guru.
Untuk belajar menerima perbedaan, para guru perlu menempatkan kemampuan ini sebagai komponen kecerdasan sosial atau kompetensi sosial. Kecerdasan atau kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, membangun relasi dan kerjasama, menerima perbedaan, memikul tanggung jawab, menghargai hak orang lain, serta kemampuan memberi manfaat bagi orang lain. Kemampuan membangun relasi meliputi kepandaian bergaul, membina persahabatan, hubungan kerja atau jaringan bisnis.

Apa itu Kecerdasan Sosial?
Kecerdasan sosial (social intelligence) berkaitan erat dengan kecerdasan bahasa (language intelegence) dan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Sebagai salah satu dari sembilan kecerdasan majemuk yang diidentifikasikan oleh ahli psikologi sosial, Prof. Howard Gardner (1986). Yang menurut pakar psikologi sosial Thomas Amstrong (1986), dalam perkembangannya akan bekerja secara bersinergi dan serentak ketika seseorang berinteraksi orang lain. Oleh sebab itu untuk membelajarkannya disekolah seorang guru perlu mengintegrasikan kecerdasan ini dalam pembelajaran di kelas.
Yang harus diyakini para guru adalah setiap manusia memiliki potensi kecerdasan sosial. Secara naluriah, setiap manusia memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Bagi guru dan orang tua kecerdasan sosial dapat diasah dengan merubah persepsi awal terhadap kecerdasan. Persepsi yang harus diubah adalah bahwa kecerdasan sosial tidak kalah penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Banyak guru dan orang tua yang sangat senang apabila anaknya mendapat nilai yang selalu bagus di sekolahnya. Hal tersebut memang benar, namun tidak seutuhnya benar. Sebab menurut penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman (1995 dan 1998) menunjukkan bahwa kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual memberikan kontribusi sebesar 80% terhadap tingkat kesuksesan seseorang, sedangkan kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi sebesar 20%.
Dalam buku karangan Karl Albrecht yang berjudul The New Science of Success, disebutkan bahwa ada lima komponen dasar untuk mengasah kecerdasan sosial, yang disingkat dengan kata ‘SPACE’, yaitu : S : Situational Awareness (kesadaran situasional) “The ability to read situations and to interpret the behaviours of people in those situations.” Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kemampuan untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Seseorang yang merokok di tempat umum dan menghembuskan asapnya secara sembarangan menunjukkan bahwa dia memiliki situational awareness yang rendah. P : Presence (kemampuan membawa diri) ” Also known simplistically as “bearing,” is the impression, or total message you send to others with your behavior. People tend to make inferences about your character, your competence and your sense of yourself based on the behaviors they observe as part of your total presence dimension.” Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda berikan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan, adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Kita akan lebih mudah mengingat orang lain yang memiliki kualitas presence yang paling baik dan yang paling buruk. A : Authenticity (keaslian) “Authenticity is the extent to which others perceive you as acting from honest, ethical motives, and the extent to which they sense that your behavior is congruent with your personal values – i.e. “playing straight.”Authenticity atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya, jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini sangat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan jejak relasi yang mulia nan bermartabat. Orang lain akan lebih memercayai kita, apabila kita tulus dalam segala perbuatan, dan juga apabila kita berlaku apa adanya, tidak dibuat-buat. C : Clarity (kejelasan) “Clarity is the ability to express ideas clearly, effectively and with impact. It involves a range of “communicating” skills such as listening, feedback, paraphrasing, semantic flexibility, skillful use of language, skill in using metaphors and figures of speech, and the ability to explain things clearly and concisely.” Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara baik dan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Sering kali kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara baik sehingga atasan atau rekan kerja kita tidak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan baik apabila kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan. Seseorang yang memberikan pendapatnya dengan gugup dan tidak jelas, sekalipun gagasan itu bagus, tetap saja para pendengar akan merasa tidak yakin terhadap gagasan tersebut. E : Emphaty (empati) “Emphaty is the skill of building connections with people – the capacity to get people to meet you on a personal level of respect and willingness to cooperate.” Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang baik kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat terhadap sesama rekan kita.

Pentingnya Kecerdasan Sosial Pada Siswa
Coba anda perhatikan siswa lulusan hari ini, banyak dipihak tentu dapat memberikan penilaian yang sama bahwa mereka semakin individual dan semakin abai dengan lingkungannya. Hasil penelitian senada terhadap 95 Mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa mereka yang saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual tinggi, namun mereka memiliki sifat egois, angkuh, atau tampak kurang dalam pergaulan, ternyata hidup mereka tidak terlalu sukses (berdasarkan gaji, produktivitas, dan status bidang kerja) bila dibandingkan dengan mereka yang kecerdasan intelektualnya biasa saja, tetapi supel dalam pergaulan, mempunyai banyak teman, bisa berempati, pandai berkomunikasi, dan tidak temperamental.
Terkait dengan hasil penelitian tersebut, kita juga sering menyaksikan dalam lingkungan tempat tinggal kita. Tidak jarang seseorang yang kita pandang mempunyai kecerdasan lebih di kampusnya, ketika diminta pendapatnya dalam sebuah musyawarah mengenai suatu masalah yang terjadi, tampak dia kesulitan sekali menyampaikan pendapatnya secara runtut dan baik. Hal ini bisa terjadi bukan karena orang tersebut tidak mempunyai kecerdasan intelektual yang baik, namun kecerdasan sosialnya kurang dikembangkan dengan baik sehingga ia mengalami kegagapan ketika dihadapkan pada masalah yang sebenarnya dalam lingkungan sosial.
Kecerdasan intelektual memang sangat penting untuk terus dikembangkan, namun kecerdasan sosial juga tidak boleh diabaikan. Karena kecenderungan masyarakat modern, seringkali bersitegang dengan waktu karena adanya target atau bahkan ambisi disegala bidang, baik kebutuhan terhadap pemenuhan materi sekaligus gengsi yang semakin menguat akan membuat kehangatan hubungan sosial semakin berkurang. Hal inilah menjadi penting dikembangkan sehingga anak kita dikemudian hari memiliki hubungan sosial yang baik. Tidaklah cukup apabila orang tua mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang cerdas, sehat, bermoral, berbudi luhur, ceria, mandiri dan kreatif hanya menyerahkan kepada sekolah saja. Anak membutuhkan kesempatan lebih luas, seperti bersosialisasi dan mendapatkan kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi kreatif salah satunya dengan peningkatan kecerdasan sosial anak.
Semoga ditangan kita para guru lahir generasi bangsa yang memiliki kecerdasan disegala bidang. Terutama dalam kepekaan dan kecerdasan social.

 

Social Intelligence

Standard

KECERDASAN SOSIAL ITU???

Image

Kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya”

“Kecerdasan sosial adalah suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia” (Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University: 1994)

“Kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola pria dan wanita, anak laki-laki dan perempuan, untuk bertindak bijaksana dalam hubungan manusia” (Edward Thorndike)

“Mecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya” (Menurut Buzan).

“Mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing seseorang ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif”. Suean Robinson Ambron (1981).

“Kecerdasan sosial adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya atau lingkungannya secara optimal dan bereaksi dengan tepat untuk melakukan sosial sukses”. (Menurut Sean Foleno)

“Kecerdasan sosial sebagai hubungan interpersonal, baik buruk atau baik, memiliki kekuatan untuk membentuk otak kita dan memepangaruhi sel-sel tubuh”.( Menurut Goleman)

Orang dengan kecerdasan sosial tinggi tidak akan menemui kesulitan saat memulai suatu interaksi dangan seseorang atau sebuah kelompok baik kelompok kecil maupun besar. Ia dapat memanfaatkan dan menggunakan kemampuan otak dan bahasa tubuhnya untuk “membaca” teman bicaranya. Kecerdasan sosial dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, secara khusus perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Dalam bentuk yang lebih maju, kecerdasan ini memungkinkan orang dewasa membaca kehendak dan keinginan orang lain, bahkan ketika keinginan itu disembunyikan. Kecerdasan sosial ini juga mencakup kemampuan bernegoisasi, mengatasi segala konflik, segala kesalahan, dan situasi yang timbul dalam proses negoisasi. Semua keterampilan itu membolehkan seseorang dengan kecerdasan sosial tinggi sanggup berperan sebagai teman bicara dan sekaligus pendengar yang baik, serta sanggup berhubungan dengan banyak orang.

Can SI be measured?

“Yes. Measuring SI involves identifying key interaction skills and then assessing them behaviorally. All human interaction takes place with some context or other, and effectiveness involves mastering the contexts within which one is called upon to interact. So, according to this reasoning, SI means understanding contexts, knowing how to navigate within and between various contexts, and knowing how to behave in various contexts so as to achieve one’s objectives. In other words, SI is inferred from behavior, so we use various observable behaviors as indicators of SI.”( karl albrecht)

 Apakah SI bisa diukur?

“Bisa. Mengukur SI melibatkan identifikasi keterampilan interaksi kemudian mereka menilai prilakunya. Semua prilaku manusia berlangsung dengan beberapa konteks dimna seseorang di panggil untuk berinteraksi. Jadi menurut penalaran ini, SI berarti konteks pemahaman, mengetahui bagaimana usaha kita untuk menavigasi dalam berbagai konteks tersebut, dan mengetahui bagaimana berprilaku dalam berbagai konteks tersebut sehingga bisa mencapai tujuannya. SI disimpiulkan dari prilak, jadi kita berprilaku yang dapat diamati sebagai indikator SI”. ( karlal brecht)

ImageKOMPONEN DAN INDIKATOR

SI Internal

  • Keinginan bersosial dari dalam diri
  • Menjalin hubungan baik dengan orang lain
  • Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain

SI Eksternal

  • Adanya pengaruh untuk bersosialisasi
  • Menyelesaikan permasalahan dalam berinteraksi Sosial
  • Bersosial karena adanya faktor yang lain (supaya mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain)

MODEL SOCIALl INTELLIGENCE MENURUT PARA AHLI

Pada tahun 2005, Karl Albrecht mengusulkan sebuah model social intelligence yang terdiri dari lima poin dalam bukunya Social Intelligence: Ilmu Baru Sukses, yaitu “SPACE”

Image

situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Orang yang tanpa rasa dosa mengeluarkan gas di lift yang penuh sesak itu pastilah bukan tipe orang yang paham akan makna kesadaran situasional. Demikian juga orang yang merokok di ruang ber AC atau yang merokok di ruang terbuka dan menghembuskan asap secara serampangan pada semua orang disekitarnya.

Presense (atau kemampuan membawa diri). Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Anda mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan Anda yang memiliki kualitas presense yang baik dan mana yang buruk.

Authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan berjejak relasi yang mulia nan bermartabat.

Empathy (atau empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki ketrampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang guyub dan meaningful kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat  terhadap sesama rekan kita.

Model Kecerdasan Sosial Menurut Daniel Gleman

Goleman (2006) menyusun kecerdasan sosial ke dalam dua komponen utama :

  1. Kesadaran Sosial terdiri dari :

Empati dasar/primal empathy. Empati dasar merupakan kemampuan memahami perasaan orang lain. Individu dengan kecerdasan sosial yang baik mempunyai kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain melalui isyarat-isyarat emosi nonverbal seperti bersedih, kecewa, marah, kesal dan lain sebagainya. Ini merupakan kemampuan empati intuitif, yang diaktifkan secara otomatis oleh neuron cermin (mirror neoron). Menurut Goleman, sekalipun individu bisa berhenti berbicara, namun individu tidak dapat berhenti mengirim signal (berupa: nada suara, dan ekspresi sekilas) tentang apa yang sedang dirasakan oleh individu. Ketika individu berusaha untuk menekan semua “tanda” dalam emosi, perasaan mempunyai cara tersendiri untuk menampilkan hal tersebut.

Penyelarasan/attunement. Penyelarasan yang dimaksud adalah bagaimana individu mampu untuk mendengarkan dengan terbuka dan memahami apa yang disampaikan – perhatian yang melampaui empati dasar. Hal ini berkaitan erat dengan seni mendengarkan. Oleh karena itu, individu dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan untuk mendengar dengan efektif. Individu diharapkan mampu menyelaraskan diri dengan perasaan orang lain dengan memberikan perhatian secara total kepada orang lain dan mendengarkan dengan sepenuhnya.

Ketepatan empatik/empathic accuracy. Ketepatan empatik merupakan kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain. dengan memahami pikiran dan perasaan orang lain, kita mampu untuk mengerti maksud dari orang lain.

Kognisi sosial/social cognition. Kognisi sosial merupakan kemampuan individu untuk memahami dunia sosial. Pengetahuan tentang dunia sosial, meliputi: bagaimana selukbeluk dunia sosial dan bagaimana dunia sosial berinteraksi. Individu yang memiliki kemampuan kognisi sosial akan mudah berinteraksi dengan orang lain.

  1. Fasilitas Sosial

Sinkronisasi/synchrony. Sinkronisasi merupakan kemampuan individu dalam berinteraksi secara mulus dengan menggunakan bahasa nonverbal. Bahasa nonverbal merupakan bahasa yang tidak menggunakan kata-kata, tetapi lebih menggunakan isyarat bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, pandangan mata, gerak tubuh dan sebagainya.

Presentasi diri/self-presentation. Presentasi diri berkaitan dengan bagaimana individu menampilkan diri dengan efektif saat berinteraksi dengan orang lain.

Pengaruh/influence. Pengaruh merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk berbuat sesuatu. Pengaruh dilakukan dengan menggunakan kemampuan berbicara dan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Kepedulian/concern. Kepedulian merupakan unsur terakhir sekaligus bentuk kecerdasan sosial yang paling tinggi. Unsur ini menekankan bagaimana kita peduli akan kebutuhan orang lain. Kepedulian individu ditunjukkan dengan melakukan tindakan yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan orang lain.

ImageMengembangkan  Sosial Intelligence

        Bisa dilihat dari tabel sosial intelligence

Image

MENGEMBANGKAN SOCIAL INTELLIGENCE

Image

  • Tubuh bicara lebih banyak
  • Tubuh dapat lebih banyak bicara dari kata-kata.
  • Tubuh dirancang untuk berkomunikasi dengan orang lain.
  • 55% makna yang akan disampaikan dalam aktivitas tercermin pada sikap fisik.
  • Tanpa kata-kata tubuh dapat mengkomunikasikan apakah seseorang sedang sedih, senang, marah, kecewa, bahagia, malu, takut, khawatir, gugup,antusias, percaya diri, minder, cemas dsb.
  • Sadarilah hal tersebut.
  • Mendengarkan aktif

PEMBIASAAN UNTUK MENGEMBANGKAN SOCIAL INTELLIGENCE

We are what we repeatedly do. Excellence, than is not an act, but a habbit (Aristotle)

Kita adalah hasil dari kebiasaaan kita. Kesempurnaan dalam melakukan prestasi bukan suatu yang muncul begitu saja, tapi karena hasil pembiasaan.

Kesadaran

Sadar :

  • Perilaku yg tampak
  • Sikap yg terkontrol
  • Disadari penuh
  • Tergantung situasi
  • Banyak pura-pura

Tidak sadar:

  • Berupa nilai / motif dasar
  • Kurang disadari
  • Cenderung menetap
  • Ditekan/disembunyikan

Orang Yang Memiliki Kecerdasan Sosial akan mempunyai kemampuan:

  • Menjalin hubungan baru dengan orang lain
  • Menjaga dan mempertahankan hubungan harmonis dengan orang lain
  • Menjalin kerjasama dengan orang lain
  • Mengetahui permasalahan dari sudut pandang orang lain (empati)
  • Menginterpretasikan mood atau perasaan orang lain melalui bahasa tubuhnya